Sekolah Rakyat dan Kesempatan yang Tak Boleh Terputus
- Created Aug 19 2026
- / 31 Read
Ketika sejumlah siswa memilih mundur dari Sekolah Rakyat, mudah sekali menjadikan kabar tersebut sebagai kesimpulan bahwa program ini bermasalah. Padahal, jika melihat alasan di balik keputusan para siswa dan perkembangan program secara keseluruhan, gambarnya jauh lebih kompleks.
Sejak awal, Sekolah Rakyat memang dirancang berbeda dari sekolah biasa. Program ini menggunakan sistem berasrama dan ditujukan terutama bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Pendidikan diberikan secara gratis, dengan pendekatan yang tidak berhenti pada kegiatan belajar di kelas. Siswa juga mendapatkan tempat tinggal, pemenuhan gizi, layanan kesehatan, perlengkapan sekolah, hingga pembinaan keterampilan dan karakter.
Karena menggunakan sistem asrama, proses adaptasi tentu menjadi tantangan tersendiri. Beberapa kasus pengunduran diri yang muncul sejak program berjalan menunjukkan alasan yang beragam. Di Cirebon, misalnya, sebagian siswa memilih pulang karena belum siap berjauhan dengan orang tua dan belum cukup mandiri. Kasus serupa ditemukan di NTB dan Kota Batu. Ada siswa yang belum terbiasa tinggal jauh dari keluarga, bahkan ada yang mundur karena mengikuti temannya.
Artinya, keputusan seorang siswa untuk pulang tidak serta-merta dapat diterjemahkan sebagai kegagalan Sekolah Rakyat. Justru pilihan tersebut memperlihatkan tantangan nyata dari sebuah program pendidikan berasrama yang menyasar anak-anak dengan latar belakang sosial dan keluarga yang sangat beragam.
Bahkan persoalannya terkadang jauh lebih dalam. Di Semarang, sejumlah siswa dilaporkan mundur karena tekanan ekonomi keluarga. Ada orang tua yang berharap anaknya segera bekerja untuk membantu penghasilan keluarga. Kondisi seperti inilah yang sebenarnya menunjukkan mengapa intervensi pendidikan bagi keluarga rentan masih dibutuhkan.
Jika ingin menilai Sekolah Rakyat secara lebih utuh, lihat pula skalanya. Pada 2025, program ini berjalan di **166 titik** dan menjangkau hampir **16 ribu siswa**. Pada 2026, pemerintah memperluas jangkauannya secara signifikan. Hingga Juli, sekitar **45 ribu siswa** diperkirakan menjadi peserta Sekolah Rakyat. Pemerintah juga mulai membangun lebih dari 100 lokasi permanen sebagai bagian dari perluasan program.
Minat masyarakat bahkan menunjukkan angka yang menarik. Pada awal Juni 2026, Kemensos mencatat lebih dari **42 ribu calon siswa telah dijangkau**, sementara alokasi saat itu sekitar **32.640 kursi**. Artinya, jumlah calon peserta yang dijangkau justru melampaui kapasitas yang tersedia.
Sekolah Rakyat juga tidak sekadar menawarkan kursi di ruang kelas. Sistemnya dirancang untuk memberikan lingkungan belajar yang lebih menyeluruh. Pemerintah menyediakan asrama, makanan tiga kali sehari dan dua kali makanan ringan, pemeriksaan kesehatan, perlengkapan sekolah, hingga dukungan pembelajaran digital.
Tentu Sekolah Rakyat masih perlu terus dievaluasi. Sistem asrama membutuhkan pendampingan psikologis, komunikasi dengan keluarga, kesiapan fasilitas, serta masa adaptasi yang tidak sama bagi setiap anak. Bahkan pemerintah sendiri mengakui adanya persoalan teknis dan kebutuhan penyempurnaan dalam implementasinya.
Namun evaluasi berbeda dengan memberi vonis. Di balik beberapa anak yang memilih kembali ke rumah, ada puluhan ribu anak lain yang justru memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan. Ada anak dari keluarga rentan yang kini mendapatkan tempat belajar, makanan bergizi, tempat tinggal, pendampingan, dan peluang untuk membangun masa depan yang mungkin sebelumnya sulit mereka bayangkan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak seharusnya diukur hanya dari berapa anak yang memilih pulang. Yang juga perlu dihitung adalah berapa banyak anak yang akhirnya punya kesempatan untuk terus melangkah.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First
















